Selasa, 25 Maret 2014
Selasa, 25 Februari 2014
Bagian 2 : Ketika Catatan Ini Ditemukan
hari itu tak ada angin tak ada hujan. aku hanya ingin pulang. taman indah yang terhampar disepanjang perjalananku membuat aku rileks. hari itu, keindahan taman rasanya ingin kunikmati lebih lama. hingga kuputuskan untuk istirahat sejenak dengan duduk diantara taman yang terhampar itu. entah darimana asalnya. aku menemukan catatan itu. tergeletak begitu saja disampingku. tak ada tandatanda terjatuh atau terlempar dari genggaman sang pemiliknya. seperti sengaja diteruh di sana. sebuah pulpen biru ada disela lembaran buku catatan berwarna abu-abu tersebut. tak ada nama pemilik. tak ada nomor telepon. tak ada selipan foto. hanya sebuah hurup terukir indah dilembar pertama. R. cukup satu huruf itu. lalu, selipan pulpen itu sepertinya menandakan sang pemilik baru saja menuliskan sesuatu. tercatat disana...
Februari 2014
Februari 2014
Semangkuk Mie dan Secangkir Kopi
akrabkah kalian dengan dua hal itu?
tidak untukku.
aku sangat membenci keduanya.
aku sangat tak menyukainya.
bukan karena tak sehat.
bukan karena tak enak.
hanya saja...
keduanya mengingatkanku pada hal lain.
hal yang selama ini aku sayangi.
hal yang selama ini aku cintai.
bahkan aku mementingkan keduanya.
namun, semua itu hanya memebriku kesakitan.
mengingatkanku akan kesakitan
hal yang menyakitkan.
bukan hanya mengingatkan.
tapi telah membuatku sakit.
sakit badan.
sakit pikiran.
sakit jiwa.
bahkan menimbulkan kemarahan yang mendalam.
semangkuk mie yang hangat dinikmati saat udara dingin,
telah menjelma menjadi akat tajan yang merasuk dan merusak.
menjalar, mengikat dan membuat tak bisa bergerak
mematikan yang hidup.
membangkitkan kepedihan.
bahkan bernafaspun tak mampu.
bagaimana dengan secangkir kopi?
bukankah menghangatkan juga?
awalnya memang menghangatkan.
lantas apa yang telah diperbuatnya?
candu.
secangkir kopi membuat candu peminumnya.
seakan membuat seseorang sakau dan hanya bisa sembuh dengan meminumnya kembali.
semangkuk mie dan secangkir kopi..
tak pantas aku membenti kalian.
tapi hanya ini yang bisa kulakukan
hanya ini.
entah mengerti atau tidak.
karena inipun tak cukup menjelaskannya.
hanya ini.
andai kalian mengerti.
Senin, 24 Februari 2014
Bagian 1 : Catatan Tak Bertuan..part 3
Apakah kamu mencari catatan ini?. Apakah kamu mengkhawatirkan catatan
ini?. Kemana aku harus mencari kamu sang tuan catatan?. Selalu saja banyak
pertanyaan muncul ketika aku memikirkan catatan ini. Banyak hal yang ingin aku
tau perihal catatan ini. Sungguh apakah isi catatan ini nyata atau hanya angan
belaka. Entahlah. Aku hanya merasa tersentuh tiap kali aku baca catatan ini. Jika
tak tersentuh bahkan muncul ribuan pertanyaan dari apa yang telah aku baca.
September 2011
Anak kecil menaiki sepeda roda empatnya. Terpancar jelas kebahagiaan
anak tersebut. Rambutnya yang tergerai meskipun tak terlalu panjang. Sorot matanya
bersemangat. Tak ada ketakutan sedikitpun dari matanya. Aku ingin seperti itu,
ingin bebas seperti anak kecil itu. Tak ada beban sedikitpun dipikirannya. Berbeda
denganku saat ini, begitu banyak yang aku pikirkan. Kadang tak tahu apa yang
sedang aku pikirkan.
Seandainya aku bias memilih. Aku tak ingin tumbuh besar seperti saat
ini.
4 September 2011
Kekhawatiranku tak meluluhkan hatimu rupanya. Hanya maaf. Hanya maaf
yang selalu muncul dari bibirmu itu. Rupanya tak sedikitpun kamu tersentuh ya
sayaaang. Sumpah, lama-lama aku tak akan melakukannya lagi. Jangan pernah
salahkan aku jika suatu saat aku benar-benar melakukannya. Aku tak akan
mengkhawatirkanmu lagi. Cukup aku yang tahu. Karena memang itu salahmu.
Aku sudah punya teman sekarang. Temanku adalah sepi. Selamat dating
teman. Aku rasa aku berhak menyambutmu. Karena selama ini aku terlalu pusing akan
apa yang tak pernah orang lain pusingkan. Sungguh aku merasa kehilangan jati
diri. Kemana aku yang dulu. Yang selalu merasa senang apapun yang terjadi. Aku
yang tak pernah menangis. Aku yang selalu cuek. Aku yang periang. Aku yang
pandai meraih orang. Mana aku yang dulu. Sepertinya topeng yang aku pakai
semakin tebal. Aku rasa ini karenamu. Benar kata kakakku yang jauh di bintaro
sana. Dia mengatakan bahwa yang aku butuhkan hanyalah orang yang mau
mendukungku. Yang mau menerimaku apa adanya. Bukan merubah. Harusnya aku tahu
dari dulu. Kakak, tapi aku sudah amat menyayanginya. Tak mungkin aku
meninggalkannya. Bahkan aku akan tak hidup tanpanya. Sungguh. Aku
sungguh-sungguh. Semoga bukan hanya mimpi.
Dewasa dan tumbuh besar memang seharusnya kita alami. Tak bias kita
tolak dan tak bias kita mengulangnya lagi. Itu kodrat manusia yang sebenarnya. Aku
penggemar doraemon. Aku kadang berkhayal bisa menggunakan lorong waktu yang ada
di meja belajar Nobita. Tapi, aku tak menyesal tak bisa melakukan itu karena
aku yakin aku bisa melakukan yang lebih baik dari itu.
Kamis, 20 Februari 2014
Bagian 1 : Catatan tak bertuan...part 2
siapa orang ini?. tiap kali kubaca catatannya ingin rasanya aku memeluknya. menenangkan jiwanya yang sepertinya tak sedang dalam keadaan baik. ketangguhan dibalik kelemahan. senyuman dibalik tangisan. kalau aku ada di posisi nya apakah aku sanggup menghadapi semuanya?.
tapi aku lelaki, aku bukan dua golongan yang dikatakan olehnya. "laki-laki hanya ada dua jenis, kalau tidak brengsek dia homo". apa yang membuatnya sangat benci pada lelaki. aku jelas sangat ingin tahu. jahatkah laki-laki yang dekat dengannya dulu?. andai aku tahu yang kamu rasakan pemilik catatan.
Seandainya kubisa melukiskan persaanku saat ini, mungkin hanya gambar langit gelap yang jelas terlihat. Hati ini begitu sakit tak tahu apa yang harus aku lakukan. Berbagi cerita pada orang sekelilingku pun aku tak mampu. Aku hanya bisa menangis mengingat semuanya. Setidaknya air mata yang jatuh meringankan beban batin yang tertahan di dada.
Melihat tingkahku saat ini rasanya aku terlalu manja. Aku sekarang sudah
mulai tergantung padamu. Cukup aku rasakan semuanya sendiri. Aku memang telah
terbiasa sendiri. Apa yang harus aku takutkan. Aku harus biasa sendiri lagi.
Tak boleh seperti ini. Aku harap ini awal baru yang akan membuatku kembali
tegak berdiri di atas kakiku sendiri tanpa bermanja pada orang lain. Terutama
kepada orang yang telah bersedia meluangkan kasihsayangnya untukku. Semoga aku bisa
membalas semuanya.
hai wanita pemilik catatan, bertemulah denganku. katakan semuanya padaku. aku mau meminjamkan pundakku padamu. menangislah di sini di pundakku. aku berharap bisa meringankan beban yang ada dipikiranmu.
tapi aku lelaki, aku bukan dua golongan yang dikatakan olehnya. "laki-laki hanya ada dua jenis, kalau tidak brengsek dia homo". apa yang membuatnya sangat benci pada lelaki. aku jelas sangat ingin tahu. jahatkah laki-laki yang dekat dengannya dulu?. andai aku tahu yang kamu rasakan pemilik catatan.
30 Agustus 2011
Kalau memang kamu tak ingin aku membagi rasa ini denganmu tak
kusalahkan. Biar kutanggung sendiri semua beban batin ini. Dan biarkan
kucurahkan melalui tulisan. Biar aku merasakan ini sendiri.
Seandainya kubisa melukiskan persaanku saat ini, mungkin hanya gambar langit gelap yang jelas terlihat. Hati ini begitu sakit tak tahu apa yang harus aku lakukan. Berbagi cerita pada orang sekelilingku pun aku tak mampu. Aku hanya bisa menangis mengingat semuanya. Setidaknya air mata yang jatuh meringankan beban batin yang tertahan di dada.
Bagaimana aku menggambarkan perasaanku? sepertinya aku harus merubah
diriku sendiri. Mendramatisir keadaan justru akan membuatku lebih sakit dari
ini. ucapan-ucapan sayang dan cintamu cukup akan aku simpan dalam hati. Begitu
besarnya sayang dan cintaku padamu seiring berjalanya waktu dan melihatmu yang
enggan dibagi pilu rasanya akan menguap hilang entah kemana sedikit demi
sedikit. Apalagi dengan adanya kejujuran yang mengatakan sesuatu yang amat aku
benci. Membuatku tambah kecewa. aku tak berharap lebih. Hidupku sudah ada di
genggamanmu. Jika kamu pergi ku pikir hidupku sudah tak hidup dan tak berharga.
hai wanita pemilik catatan, bertemulah denganku. katakan semuanya padaku. aku mau meminjamkan pundakku padamu. menangislah di sini di pundakku. aku berharap bisa meringankan beban yang ada dipikiranmu.
Rabu, 19 Februari 2014
Bagian 1 : Catatan Tak Bertuan
Agustus 2011
Jujur..
Aku amat benci menunggu..
Aku amat membenci Manunda-nunda..
Aku amat menbenci menantimu disini..
Jujur..
Aku amat membenci bayangan yang kulihat di cermin. Bayanganku sendiri.
Aku tahu bahwa dunia adalah panggung sandiwara. Dan apakah aku harus bangga
menjadi salah seorang dari pemain sandiwara tersebut?.
Aku rasa aku memiliki dua muka. Apakah aku harus bangga memiliki dua
muka?. Entahlah. Kupikir betapa munafiknya aku.
Jujur..
Ini amat sangat jujur..
Aku amat membenci kerudung yang kupakai. Aku amat membanci baju takwa
yang kamu pakai. Aku amat membenci lagu-lagu nasyid yang sering kamu perdengarkan.
Bahkan aku amat membenci semua tingkah lakuku dan tingkah laku kamu yang amat
terlihat sopan dan baik di depan semua orang. Sungguh aku membenci semua ini
karena semua ini hanya topeng yang menutupi kebusukan kamu dan aku. Kebusukan
dua orang yang saling mencintai.
Kenapa aku yang harus menemukan catatan ini. Aaaaah, membacanya saja aku merasa sesak meskipun aku tak mengerti apa makna dari tulisan ini. Dan ini baru halaman awalnya saja. Siapa yang menulis ini?. buku diary kah ini?. Entahlah.
Membenci melihat bayangan sendiri. Apa yang telah orang pemilik cacatan ini lakukan. Ternyata ada yang lebih menderita dariku. Apakah aku harus syukuri?.
Tarikan nafas panjang rasanya aku dengar di setiap kata yang tertulis di catatan ini. Pemiliknya wanita berkerudung. Siapa ini?. Haruskah aku temukan pemiliknya dan aku kembalikan?.
Catatan usang hampir tiga tahun yang lalu, kenapa kamu mendatangiku?. Apakah Tuhan hendak mengutusku untuk sang pemilik catatan ini?. Ah, pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan tak akan adayang menjawab. Biarkan insting detective-ku kembali aku munculkan demi mengetahui siapa pemilik catatan ini. Yah, aku akan menemukan tuan mu. Tenang saja catatan usang, aku tak akan membuangmu ke tong sampah bau itu.
Aku pikir, wanita yang ada di catatan ini telah tersakiti oleh lelaki. Benarkah?.
Rabu, 01 Januari 2014
aaaaah lebay
Sesuatu
yang berlebihan memang tidak baik, tidak bagus dan tidak diperkenanankan
Ketika
keberanian ada di posisi berlebihan membuat orang ilfeel kepada sang pemberani
karena menganggap sang pemberani over acting bahkan terkesan cari perhatian.
Namun, ketika kebaranian ada diposisi sebaliknya yaitu kurang banyak, maka
membuat seseorang tak sama sekali disebut pemberani. Jatuhlah kata-kata
pengecut bahkan.
Berlebihan
atau bahasa gaulnya sekarang adalah lebay..haha
Anehnya
masa kini di abad 21 katanya banyak remaja lebay bahkan ditambahin kata alay
yang entah apa maksudnya. Tapi itu adalah bentuk penentangan dari pernyataan
pertama saya bahwa “berlebihan itu tidak baik”.
Apakah
sekarang harus menjadi berlebihan dulu baru bisa disebut teman yang
menyenangkan?
Apakah
sekarang harus menjadi berlebihan dulu, baru jadi sahabat yang akan membuat
temannya bahagia?
Apakah
sekarang harus menjadi berlebihan dulu, baru akan disukai oleh cowo ganteng
atau cewe cantik?
Seandainya…
Banyak hal
yang tak bisa digambarkan dengan hanya kata-kata. Tapi, dengan kata-kata
setidaknya pesan yang ingin disampaikan bisa terwakili…
Seandainya
aku bisa tau isi hati orang, tentu aja ga akan sampe semua orang punya musuh
atau sekedar salah paham pun akan lenyap dari dunia ini.
Seandainya
aku bisa memutar kembali waktu agar aku tak masuk kedalam posisi yang selalu
menjadi mimpi buruk buatku,
Seandainya
aku bisa memutar kembali waktu aku pilih ga akan pernah mau melakukan hal yang
membuatku menyesal seumur hidupku,
Seandainya
aku bisa membuat waktu berputar lebih lama, aku akan bisa mengerjakan semua hal
tanpa harus diburu-buru waktu,
Seandainya
ada yang bisa tau isi hatiku, mereka akan mengerti apa mauku,
Kadang diam
membuatku lebih baik, tapi kadang bisa membuatku sangat menyedihkan, seandainya
aku bisa memilih apa yang sebenarnya bisa membuatku lebih baik.
Seandainya…
Ahhhhh
Lebaaaayyyyy…
Jumat, 20 Desember 2013
SARA ( SUKU, AGAMA, RAS DAN ANTAR GOLONGAN )
SARA. Biasanya di tiap
tulisan selalu diberi keterangan agar isi tulisannya tak mengandung SARA. Tapi,
untuk tulisan saya sekarang akan ada unsur SARA karena memang saya akan
membahas mengenai itu. SARA kepanjangan dari suku, agama, ras, dan antar
golongan. Bener ga yah kepanjangan dari itu?. Soalnya itu yang saya tahu.
Kenapa di tiap tulisan selalu menyebut agar isi tulisan tak mengandung SARA yah?.
Apa karena SARA ini adalah suatu yang sangat sensitive untuk jadi topik
pembicaraan?. Entahlah. Menurut saya sendiri dengan adanya SARA kita belajar.
Belajar saling menghargai, belajar saling tolenransi, belajar saling
menghormati. Untuk yang belum melakukan itu, yah namanya juga hidup itu
belajar. Lambat laun jika kita mau pasti akan bisa melakukan hal-hal yang telah
sebelumnya saya sebutkan.
SARA (suku, agama, ras
dan antar golongan)
SUKU. Di biodata atau
di curriculum vitae biasanya mencantumkan hal tersebut. Kita tahu lah Indonesia
adalah Negara yang penuh keragaman suku. Kita harus bangga dengan hal tersebut.
Perbedaan adalah sesuatu yang membuat indah dunia. Tak mungkin pelangi indah
jika hanya terdiri dari satu warna. Kita juga ga akan belajar kalo cuma ada
satu suku di dunia. Namun, yang dipermasalahkan adalah bagaimana menyikapi semua
perbedaan itu. Menurut saya, kebanyakan orang biasanya mengkhusus-umumkan
sesuatu misalnya ada orang sunda yang bertabiat jelek dan menganggap jelek
semua orang sunda. Kan tidak selalu se-suku dan punya tabiat yang sama. Masih
ada faktor lain yang mempengaruhi itu. Jadi menurut saya berita-berita tentang
adanya konflik antar suku harusnya membuat kita khususnya saya sendiri untuk
lebih belajar mengahargai, menghormati dan menerima perbedaan itu. Meskipun
sulit kenyataannya.
AGAMA. Di Undang-Undang
Dasar 1945, dikatakan bahwa Negara mengakui perbedaan agama yang ada di
Indonesia. Tercatat bahwa Indonesia adalah Negara dengan keragaman agama yang
cukup banyak dibandingkan dengan Negara lain, meskipun tetap mayoritas islam
sebagai agama terbanyak yang dianut oleh warga Indonesia. Tapi, perbedaan itu
harusnya menjadi suatu keunikan kan?. Saya sendiri tidak anti untuk tetap
berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda keyakinan. Dari situ ada sesuatu
yang bisa dipelajari. Inti dari tiap agama menurut saya sama. Tidak boleh
melakukan sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
RAS. Sama seperti dua
hal sebelumnya, bahwa Indonesia adalah memilik banyak keragaman yang ada
didalamnya. Indonesia ditinggali oleh banyak ras dari banyak Negara. Dan itu
membuat unik Indonesia. Kita bisa mengetahui kebiasaan, bahasa, atau peragai
tiap orang yang meiliki ras yang berbeda-beda. Ini adalah kesempatan yang baik
untuk belajar menurut saya.
ANTAR GOLONGAN. Kadang kala
golongan itu akan diutamakan daripada kepentingan pribadi sehingga ketika suatu
golongan merasa dijelekkan, maka akan banyak pribadi dari anggota golongan yang
merasa tersinggung sehingga timbulah suatu perpecahan. Untuk mengatasi itu,
baiknya saya sebagai pribadi, saya akan mencoba melihat hal tersebut dari
berbagai sudut pandang. Tidak underestimate,
hehe keren yah bahasanya. Kembali lagi bawasannya tiap individu memiliki
kekhasannya masing-masing. Akan indah jika kekhasan itu membaur menjadi satu
dan tak bisa dipisahkan satu sama lain, karena pada dasarnya kita saling
membutuhkan bukan?
Jadi, isi tulisan
tentang SARA akan menjadi bermakna manakala isi tulisan membuat kita sadar
bahwa perbedaan itu harus menjadi daya tarik pemersatu. Bukan menjadi pemecah
yang nyata.
Yang saya tahu tentang
psikologis, manusia cenderung baik dalam memberi saran untuk orang lain
daripada untuk diri sendiri sehingga saya perlu saran yang membangun untuk saya
sendiri karena saya juga sedang dalam proses belajar.
Terimakasih telah
membaca, semoga bermanfaat :3
Langganan:
Postingan (Atom)
